Pages

Wednesday, August 29, 2012

Menghilang

Tidak usah kau ingkari !
Kau acuh saja sebenarnya sudah menjadi bukti bahwa kau ingin lari.

Malam ini terasa berbeda. Entah sebenarnya apa yang telah terjadi. Lukisan warna hitam yang berada di atas langit terlihat semakin pekat. Padahal biasanya selalu ada aksen warna biru tua yang mendampingi warna gelap, dihiasi kelipan cahaya perak, dan sebuah objek lingkaran berwarna emas muda yang indah menemani. Tetapi, aku tak tahu, malam ini tak berwarna. sama sekali tak ada ragam dalam kelam malam. MENGHILANG sekejap rasanya keindahan yang selalu mendampingi.
Latar yang tak pernah kuinginkan.

***

"Kalau malam - malam gini, aku yah yang jadi bintangnya," jari telunjukmu mengarah kepada bintang yang berkedip menggoda kita.
"Banyak banget dong. Gimana aku bedainnya ?"
"Gampang. Ini kan bukan perkara mana bintang yang aku tunjuk. Ini cuma masalah rasa. Rasakan saja satu bintang yang kamu lihat itu adalah bintang aku,"
"ehmmm," aku terlihat bingung
"Semua bintang itu bintang aku. Asal kamu yakin dan percaya sama perasaan kamu, perasaan kalau bintang yang sedang kamu lihat itu adalah aku,"
"tapi kan ?..."
"Udah, pokoknya yang penting di hati kamu ada aku," kamu menyelaku, dan langsung menjawab kebingunganku dengan satu kecupan di pipi. "Aku akan selalu jadi bintangmu, yang akan selalu terangi malam - malammu,"

Malam kenangan itu. Warna gelap dalam lukisan malam kehidupanku seakan terang. Ditaburi bintang yang berkedip, bercahaya, terang. Senyumku terasa hingga sampai kepada perasaan terdalam. Aku dapatkan bintangku.


Kenangku terkoyak. Iya, hari ini kau hadir di depanku kembali. Lekukan senyum tidak ada lagi. Bahkan sudah tak terbersit lagi dalam benak untuk memberikan hal itu.
Aku hanya tersenyum dalam hati. Terkadang, bintang - bintang menghilang. Entah bersembunyi, entah lari, entah memang benar - benar menghilang.

"Maaf, aku ngga bisa lanjutin hubungan kita," ucapmu tertunduk. Entah tak berani menatap mataku, ataupun menyembunyikan bekas tangisan di matamu.
"Tapi kita bisa kan perjuangin ini," aku masih mencoba untuk membela.
"Sudahlah. Udah ga bisa sayang ! Memang bukan takdir kita. Maafkan aku,"
"Tapi...," aku tak bisa melanjutkan gugatan bandingku ini.
"Ngga ada tapi. Aku minta maaf. Aku minta kamu terima ini sebagai permintaan maafku. Terima kasih buat semuanya," ucapmu lirih dengan memberikan liontin bintang dan kini meninggalkanku tak percaya.

Bintangmu kini telah ada di genggamanku. Aku masih bisa merasakan dirimu.

***
Setelah aku keluar dari gedung ini. Aku tersenyum getir. Aku melihat liontin yang terlingkar indah di leherku. Cahaya bintang di langit saat ini memang sedang tak ada. Bulan pun juga tak terlihat. Gelap. Tapi, setidaknya cahayamu akan selalu ada dalam diriku. Liontin ini yang akan selalu pancarkan cahayamu.

Aku melangkah pelan menuju ke pelataran parkir, sempat kembali ku menoleh ke arah gedung balai serbaguna ini. Aku melihat kau tersenyum dengan sang rembulan di sisimu. Aku harus bisa melepaskanmu. Kau telah dapatkan bulanmu yang akan dampingi hidupmu, bintangku.
Sebulir air menetes dari sepasang mataku.

Bintangku sudah menghilang. Tak tahu apa yang harus kuhadapi di depan. Tampaknya untuk saat ini pun aku akan terlihat menghilang tanpa ada cahaya yang bersinar. Tak apa, terkadang gelap tanpa cahaya akan memberikan pengharapan terang yang lebih besar selanjutnya.
Aku kembali melangkah. Berkata dalam hati dengan kekeluan.

"Selamat Menempuh Hidup Baru, Bintang. Tetap bercahaya."

Monday, August 27, 2012

Tanpamu

"Hai, nama kamu siapa?"
"Cinta,"

Namaku cinta ketika kita bersama, berbagi rasa untuk selamanya

gemetar dan keringat dingin yang dahulu pernah kurasakan kembali menamparku. Aku masih bisa merasakan genggaman tangan lembutnya ketika kami berkenalan. Jari - jari yang bersentuhan saling mengisi diantara sela - sela, kedua tangan kami terkait.
Iya, aku masih bisa mengingat itu. Aku masih bisa mengingatnya tepat dengan sakit yang kini kembali berdenyut dalam hati. Entah kenapa aku masih tak bisa beranjak, padahal sudah selusin hari aku lewati semenjak...

***
"Kamu mau terima aku jadi pacar kamu ?"
"Iya aku mau, sepanjang usiaku aku mau terus bersamamu,"

Namaku cinta ketika kita bersama, berbagi rasa sepanjang usia

Aku masih ingat ketika kau tersenyum tulus mengangguk menjawab pernyataan hatiku. Tak tergambar kebohongan dari kedua bola matamu. Malah, sepasang intan hitam yang ada di wajahmu ini meyakinkanku bahwa aku tidak akan pernah salah memilihmu. Kesempurnaan perasaan aku yakin telah tergenggam. Aku sudah lengkap denganmu.

"Aku sayang sama kamu,"
"Aku juga sayang sama kamu, cinta banget malahan," ucapnya sambil memelukku.
Sejurus kemudian bibirku sudah mengecup keningnya. Tubuhku kontan membalas pelukannya, memberikan kenyamanan terbaik yang bisa kuberikan.

Aku merasakan menjadi sepasang makhluk egois di dunia. Istilah "Dunia hanya milik kami berdua, dan orang lain cuma numpang" aku rasakan. Iya, keindahan itu menjadikanku Raja dan Ratu di Kerajaan Cinta dunia ini. Aku bersamanya terlengkapi. Tidak ada lagi ruang kosong di dalam hati. Pemilik absolut perasaanku sudah mendiami tempatnya. Cinta Carolina. Pengisi dan pelengkap diriku.

***
Tepat ketika angka 24 bulan menjadi masa kebahagiaan yang aku rasakan.

Aku berjalan riang lewati taman komplek depan rumahmu. Tidak ada perasaan aneh selain cinta yang semakin menggebu. Aku tak memberitahumu sebelumnya untuk berkunjung ke rumahmu. Aku hanya ingin memberi kejutan anniversary 2 tahun cerita cinta yang sedang kita jalani.
Aku tepat berada di depan kediamanmu. Sedikit perasaan yang berbeda menggelayuti hatiku. Salah satu alisku spontan terangkat ketika melihat Ninja biru muda 250cc terparkir di dalam rumah.

"Motor Anthony ?" tanyaku dalam hati.

Aku lepaskan segala hal yang buruk dari pikiranku. Aku hanya pikir saingan 2 tahun silamku ini hanya datang berkunjung. Sang Mantan.
Aku melangkah cukup pelan. Mungkin tak terdengar langkah derapan kaki. Mencoba untuk membuat bisikan langkah. Hatiku semakin tak menentu ketika mendengar beberapa kalimat sanjungan seorang pria, dan tawa khas perempuan tercintaku.

Aku mencapai pintu rumah perempuanku

TEPAT!!!
Aku hanya tak mau menggambarkan apa yang telah terjadi. Entah kenapa harus terjadi!

Hingga tiba saatnya, akupun melihat. Cintaku yang khianat, Cintaku berkhianat

Tidak pernah ada yang tahu misteri masa depan. Keindahan yang pernah terukir bisa saja menjadi sampah tak berguna. Perubahan besar bisa menjadi bagian cerita dari teka - teki perjalanan hidup.
Seperti yang aku alami. Kesempurnaan yang dahulu aku kira ternyata dapat terlepas. Aku tak pernah tahu arti pengkhianatan.
Aku hanya bisa mengerti bahwa kebohongan dan ketulusan terkadang berbeda tipis. Kebosanan dan kepercayaan terkadang menjadi satu hal yang tak bisa disatukan.
Aku hanya mencoba untuk tetap bisa berdiri mendapati hal ini.

"Aku hanya ingin, ciuman hangat yang kau lakukan bersamanya hanya sekedar mimpi burukku," Aku Berharap.

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu jalan pulang

"Happy Anniversary 2 Years, Cinta Carolina. Aku akan mencoba untuk hapus lukaku. Maafkan aku tak bisa terima ini semua,"

Aku Tanpamu Butiran Debu

#CerpenLagu
*Lirik Rumor - Butiran Debu


Engagement Letter

Bogor, 27 Agustus 2012

Kepada @PosCinta

Dear Bosse Pos Cinta.

Selamat sore.
Di bawah lembayung senja yang memayungi atap rumah tempat dimana aku mengetikkan lamaran pengharapan untuk menjadi pekerja di sebuah institusi perasaan dunia maya. "Perusahaan Pos Cinta"

Mengenalmu terjadi sekitar 1 tahun lalu. Aku tidak terlalu ingat kapan tepatnya. Yang terbersit hanyalah kenangan ketika aku tertarik untuk mencoba mengenalmu lebih dekat.
Temanku adalah orang yang perkenalkan engkau kepadaku. Dia adalah penulis langganan @PosCinta dalam event #30HariMenulisSuratCinta , aku tak akan menyebut namanya, tak terlalu penting sepertinya, toh aku juga hanya ingin beritahukan sedikit memori kepadamu. Cerita kenangan dimana aku bisa tahu tentang dirimu.

Hanya sekedar mengenalmu buatku tak puas. Tahun 2011 aku kesal. Bagaimana bisa seorang Capricornus Melancholic Boy tidak tahu menahu tentang acara tulis menulis menyambut Valentine's Day yang dirangkumkan dalam #30HariMenulisSuratCinta oleh dirimu. Untung saja partner dunia kata dan huruf yang aku punya memperkenalkanku pada dirimu. Dalam masa ini, aku hanya sekedar tahu tentang dirimu @PosCinta

Tahun 2012. Inilah awalku mencoba peruntungan. Menghadapi 14 Januari 2012 dengan semangat menyala. Hari pertama diriku bertutur tulis, dan berharap - harap cemas untuk menulis segala hal yang disangkutpautkan dengan surat cinta. Debut #30HariMenulisSuratCinta ku kalo bisa dirangkumkan adalah sebagai berikut. 25 Tulisan. 6 Berhasil masuk http://30harimenulissuratcinta.blogspot.com
Buatku itu suatu Big Achievement bagi penulis semi - amatir sepertiku. Untuk itu aku berterimakasih kepada @PosCinta dan juga pak posku @adimasnuel

Singkat cerita itu flashback yang bisa aku lampirkan dalam surat lamaran ini. Bila memang tak bisa memenuhi syarat sebagai berkas lampiran, ikhlaskan saja kisah singkatku tadi sebagai curicullum vitae yang aku beri sebagai syarat penerimaan.

Dengan ini. Saya Suno Christiawan @sunoesche yang bernaung di daerah Segitiga Pinggiran Kota Bogor, Bekasi, dan Cibubur. Menuliskan lamaran dengan pengharapan yang sangat besar untuk diterima sebagai Tukang Pos Cinta. Saya hanya ingin mengirimkan cinta dan perasaan kepada semua orang, kepada tujuan yang tepat, ke dalam HATI.

Dear Bosse Surat Cinta. Ini surat saya. Terima kasih atas perhatiannya ya <3.
Best Regard and Big Love

Suno Christiawan

Saturday, June 2, 2012

Hanya Untuk Saat Ini

Selamat malam. Entah kenapa rembulan malam ini tak bersinar. Sembunyi di balik kumpulan kelam kapas - kapas langit. Kompak dengan bintang yang seakan menghilang. Tercuri dari langit. Penjahat semesta sepertinya sedang beraksi memadamkan langit di lembayung senja hari ini. Gelap.

Aku menepi sendiri. Di bawah sebuah tiang kenangan. Aku terduduk, sepi, sendiri. Aku tak ada teman. Peninggalan jejak cerita lama yang kini hanya jadi peganganku. Ironi, aku tertahan oleh cerita lalu. Masih ada kamu ternyata di sela hidupku.

Penghapus memoriku sepertinya tak bekerja dengan baik. Bekas - bekas goresan senyummu bahkan masih tergambar jelas. Hangat dan menenangkan. Senyuman yang membawaku terpuruk dalam keindahan. Tapi terhempas dalam kesedihan ketika aku mengingatnya. Kontradiktif.

Kalau aku boleh menyapa. Apa kabar dirimu disana ? Jangan menoleh. Sapaan itu untukmu ! Masakan kau lupa dengan nada suaraku. Bukannya dahulu kita pernah bersenda gurau. Berbagi cerita. Bertukar nada - nada yang dikeluarkan pita suara dari bibir kita. Aku tidak rindu itu kok saat ini. Aku hanya cuma sekedar mengingatkan. *senyum getir*.

Hei cerita lama. Bolehkah kau datang padaku saat ini ? Tak perlu dengan pertemuan nyata. Datang saja ke mimpiku. Hampiri aku di perjalanan tidurku. Aku tak memohon, hanya sekedar meminta.
Hanya untuk saat ini. Hanya untuk malam ini. Bila memang sempat. Datang saja ya, tak perlu izin permisi, aku sudah menunggu sedari tadi. Sekali lagi. Hanya untuk saat ini.