Pages

Wednesday, January 9, 2013

Aku Terbangun

Aku terbangun pagi ini. Bukan karena sinar mentari yang menyelinap masuk dari bilik jendela kamarku, melainkan karena sejuk tak biasa yang getarkan tubuhku menggigil. Ya, aku kedinginan mendapati hari baru hari ini.

Aku terbangun dan menggeliat malas, berguling ke kiri balas ke kanan. Ah, aku malas untuk beranjak dari singasana istirahatku, cuaca seperti memaksaku untuk tetap terbaring, dan hawa dingin merasukiku untuk menutup mata melanjutkan tidur tampanku. Ya, di kamar ini, aku layaknya The Most Sleeping Handsome, menyaingi kisah The Sleeping Beauty.  
Hoahm, aku kembali menguap sembari mengucek-ucek mata.

Aku terbangun mencari alat komunikasiku. Sebuah telepon pintar yang aku sembunyikan di bawah bantal tempatku menggeletakkan kepala saat beristirahat. Tanganku menelusup, dan berjalan mencari salah satu benda berhargaku itu. Gotcha! Dapat! Aku tekan tombol pembuka kunci, dan... Deg!

Kemarin siang...
"Maafkan aku, aku sudah tak bisa lagi denganmu,"
"Hah? Tapi kenapa? Apa salah aku? Aku ngga mau putus!,"
"Ngga bisa! aku udah ngga bisa lanjut lagi. Kita udah terlalu jauh! Aku cape sama jarak kita! Aku cape terus ngarepin kamu di samping aku, tapi kamunya ga pernah bisa, Aku cape,"
"Tapi..., bukannya ini udah pernah kita bahas,"
"Udahlah, aku cape,"
"Tapi..., please sayang, aku sayang sama kamu, kamu ngertiin aku dong,"
"Udah, maafin aku,"
dan kamu pergi. dan aku diam tak percaya jarak hancurkan kita.

Aku terbangun di kota ini. Masih di atas tempat tidurku.
Menatap layar telepon selulerku. Menatap foto kita berdua di saat kita masih bisa tersenyum berdua.
Foto di kotamu, kota yang harus aku tinggalkan untuk melanjutkan hidupku.
Kota tempat kita berdua dahulu berjanji untuk menjaga hubungan kasih berdua.

Aku terbangun dan sadar hujan di luar datang menemuiku.
Kota sejuk ini buat semuanya berantakan.
Semalam aku harus kembali lagi kesini untuk hadapi kenyataan.
Semalam aku sudah kembali lagi dari kota mantan kasihku hanya untuk menghancurkan hatiku sendiri.
Semalam kelemahan selimutiku, pertanda hubunganku tersungkur di hadapan realita jarak.

Aku terbangun dan sadar.
Hujan ini lambangkan kehancuranku.
Hujan ini juga sejukkan hati panas remukku.

Aku terbangun pagi ini tanpamu.

Saturday, December 29, 2012

Dia dan Sang Lalu

Senyum terukir di saat sepasang bola mata membaca beberapa kalimat di layar datar komputer di hadapnya.

Bukan! Pemilik sinar netra yang tenang itu tidak sedang membaca e-mail cinta, tidak juga sedang melihat potret dirinya bersama dengan kekasih, tidak juga menuliskan rangkaian kalimat indah puisi cinta.
Tidak, dia tersenyum bukan karena cinta yang kini sedang dibacanya!
Dia tersenyum karena membaca beberapa kalimat, Dia melengkungkan sudut bibirnya karena membaca beberapa cerita, beberapa kisah, beberapa cerita, tentang seorang dari masa lalu. Bukan sahabatnya, bukan kekasihnya. Hanya seorang dari masa lalu, yang sempat ada di hatinya tapi tak pernah tergapai 'tuk dimiliki. Anggap saja kasih tak sampai.

Dia tersenyum bukan karena sang lalu itu menuliskan kisah sedih, dia tersenyum bukan karena sang lalu kini terjatuh dan tiada daya 'tuk bangkit, bahkan bukan karena sang lalu itu pun menulis sedikit tentang dirinya dalam sebuah esai.
Bukan! Si dia tersenyum bukan karena sang lalu terjerembab, dia tak pernah tega 'tuk ketahui bahwa sang lalu rasakan lara dalam kehidupan.
Tak ayal bukan karena dirinya sendiri tersirat dalam tulisan sang lalu. Dia masih tahu diri, bahwa dia sangat tak mungkin terlintas dalam benak sang lalu untuk dituliskan. Tak sedikitpun menaruh asa.

Senyum yang terukir makin melebar. Makin menyeret dalam khayal indah tentang sang lalu. Dia setidaknya dapat menyelami seujung kehidupan cerita lama tak sampainya. Yah..., walaupun hanya dari membaca beberapa paragraf kisah hidupnya. Tapi dia tahu, bahwa sang lalu masih dapat melanjutkan hidup setelah dia sempat hilang arah, lepas dari indahnya cinta, mencoba bangkit, dan terlihat berhasil.
Sepertinya berhasil, harap dia.

Dia kini telah selesai membaca cerita sang lalu. Memang tak semua kisah terbaca. Hanya beberapa kisah indah tentang sang lalu yang masih bisa melanjutkan hidup. Yang sepertinya bisa kembali berdiri melawan dunia, menggapai hidup, dan merasa cinta.
Dia tak berniat 'tuk lanjutkan membaca lagi. Bukan dia malas atau tidak ingin tahu. Tapi dia sadar diri, dia tak mau bangkitkan lagi perasaan yang sudah berhasil dia taklukkan, Perasaan gagal jatuh cinta, perasaan gagal dapatkan cinta. Jatuh tanpa merasakan cinta. Di samping itu, seharusnya dia tak usah lagi untuk berharap mengejar cinta sang lalu. Toh, sudah ada cinta baru yang berhasil dia raih dengan ketulusan.

Tombol close di pinggir kanan atas layar komputer kini sudah ada di sudut matanya. Dia menyunggingkan senyum terakhir. Ucapkan Semoga Bahagia ya Kamu, Menghela nafas, dan kini mengarahkan cursor ke tombol penutup jendela mozilla.
Click!  
Bye Bye Sang Lalu. Bahagia dengan hidupmu :)

Sunday, December 16, 2012

Maaf

Maaf!
Terlihat sederhana, tapi..., kepelikan yang terasa dalam ucapan itu sebenarnya yang menggelayut seenaknya memeras hati. Aku merasa tak nyaman.

Maaf!
Bukannya aku menggampangkan, tapi..., aku hanya mencoba menyelami apa yang sanubari katakan. Dirinya berbisik pelan, untuk segera hentikan sebelum semuanya tak terselematkan. Aku hanya mengikuti instruksi hati.

Maaf!
Kau kira aku ingin?
Tidak sama sekali! Aku tak mau!

Maaf!
Bulir air mata yang mengalir pelan menuruni pipimu. Ciptakan nyeri maha dahsyat terasa di lekuk - lekuk perasaan yang tak tega untuk hadapi kenyataan. Maaf! Aku pun rasakan pedih yang sama.

Maaf!
Tak dapat lagi aku ucap apapun. sepertinya.
Maaf aku berkata maaf!

Tuesday, November 27, 2012

Apa Kabar, Hati?

Apa kabar, hati?
Sudah berkerakkah dirimu tak tersentuh lagi?
Sudah tak ada rasakah engkau sejak terakhir cinta tertinggal?
Atau
Sudah tak punya daya lagikah dirimu?

Peristiwa terakhir yang buatmu terjatuh sepertinya sudah lama terlewatkan.
Pedih yang sewaktu dulu terasa sangat menyakitkan.
Tetiba kini menjadi tawar.
Sudah terlalu lamakah?
Sudah terlalu sakitkah?
Atau
Sudah hebatkah dirimu, hingga sakit itu terlupakan?

Selalu menjadi bagian protagonis.
Dirimu selalu berada dalam posisi yang tersudut.
Bukannya tak kuasa.
Tapi kau selalu mencoba untuk bersikap dewasa.

Lebih baik tersakiti, dibanding menyakiti.
Lebih baik dia yang mengakhiri, dari pada kau yang mengakhiri.

Suatu prinsip yang menyakiti dirimu sendiri (lagi)

Sekarang...
Bagaimana kabarmu?
Sudah siap lagi untuk merasakan jatuh cinta?
Sudah siap lagi berdetak tak karuan ketika harus menyatakan perasaan?

Ayolah!
Jangan halangi pemilikmu untuk mendapatkan target cintanya.
Jangan karena kau tak siap, tuanmu tak dapatkan pasangannya.
Kuatkan dirimu, dan lupakan yang lalu.
Akan ada pengisi dirimu kembali.

Apa kabar, hati?
Tuanmu siap untuk membuatmu kembali hidup lagi.
Sudah cukup mati surimu.
Saatnya dirimu untuk merasakan cinta kembali.

Tenang saja, tak perlu panik!
Yang ini berbeda!
Tuanmu sudah sangat awas dalam menetapkan dirinya.
Tak perlu resah karena takut tersakiti.

Apa kabar, hati?
Siap untuk jatuh cinta lagi?