Hai kisah yang tak pernah terjadi.
Apa kabarmu?
Tersenyum ragu mungkin jawabnya. Di samping kau sendiri tahu bila aku menyadari apa yang terjadi. Hanya sekedar pertanyaan kasual yang terlontar, untuk mencari alasan untuk membuka topik.
Bagaimanapun itu aku sudah mencoba.
Kembali untuk berkata, walau tak cukup untuk berbicara.
Setidaknya aku mencoba, kan? :)
Terakhir bersapa hanya ada lekukan bibir. Acuh yang seakan mengherankan melahirkan kejanggalan. Kita memang pernah terbiasa dalam kebisuan. Tapi, setelah "saat itu", aku rasa permainan tanpa suara sudah tak bisa lagi jadi acuan pertemuan.
Tapi biarlah, "paksaan" sudah terlanjut menutup kesempatan untuk lebih dapat menyatakan kalimat hati lagi bukan?
Seumpama berlari kencang, tapi sadar hanya berdiri di tempat.
Stagnan tanpa perubahan.
Permainan tanpa kata membuat lelapku tak nyaman. Bagai beristirahat di kumpulan kapas yang buatku tak tenang. Takut terjatuh.
Mimpi tidurku juga tak seindah biasanya. Entah kenapa? Biasanya ada kumpulan cerita yang bisa aku bawa di saat aku terjaga. Tapi semalam? Kau datang, entah untuk apa.
Tak bisakah kau lepaskan. Kau sudah memilih. Kau juga sudah menyalahkan aku untuk sesuatu yang tak kubuat. Tapi kau datang lagi. Kau mau mengadiliku lagi?
Semalam, entah untuk apa kehadiranmu. Aku tak mengerti, dan aku tak mau mengerti. Cukup saja ya. Mungkin bisa hanya sebatas mimpi. Karena garis sudah tertarik, dan aku tak bisa untuk mengulangnya lagi. Maaf saja, cuma untuk sebatas kata. :)
Monday, March 5, 2012
Wednesday, February 8, 2012
Teringat Sekelebat Akanmu
Kata - kata ini terangkai seperti aliran air
Tertuju untukmu, sekelebat kenangan yang teringat kembali
Harus aku akui. Mimpiku di siang ini mengirimkanku ke masa lalu. Bukannya aku tak mau menaruh jejak di cerita lama itu. Tapi aku hanya ingin menutup kisah kelu yang dulu bungkamkanku. Aku bukan orang traumatis. Aku hanya orang yang lebih defensif dalam mengulang cerita yang sakitiku. Bila dipikirkanpun siapa sih yang mau mengulang cerita yang tak menyenangkan? Tak ada kan?!
Apa kabarmu kenanganku? Ada apa kau tiba-tiba datang dalam bunga tidurku? Kau pasti kangen aku kan? Haha, aku bercanda. Aku yakin koq pasti sudah ada Romeo yang kini sudah ada di sisi kamu. Seorang yang rela mati untuk sekedarnya inginkanmu di sisinya. Kalau kamu tanyakan kabar aku? Aku ga lebih dari seorang Robin Hood koq. Bedanya. Robin Hood berusaha mencuri harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin, kalau aku berusaha mencari hati yang kaya untuk diberikan kepada miskinnya hati aku. Sangat ironis.
Entah kenapa kau datang berkali-kali di siang tadi. Di saat aku menutup mata pula menikmati masa rehatku. Apakah kau benar membutuhkanku? Ada apa hati lamaku? Kau butuhkanku kah? Apa yang kamu mau? Kamu lagi sakit? Kamu lagi sedih? Aku benar-benar tak bisa menerima pesanmu utuh dalam mimpi tadi. Hanya sekelebat saja kau datang, tersenyum, dan pergi lagi. Aku tak mengerti maksudnya. Walaupun kau datang dan tersenyum berkali-kali. Bila kau tak mengeluarkan untaian kalimat. Aku tak mengerti.
Maafkan aku. Aku bukan cenayang yang bisa mengartikan kalimat tanpa kata darimu.
Sudahlah kasih masa laluku. Dalam surat ini aku hanya bisa berdoa untukmu. Semoga saja kau tak apa disana. Tetap tersenyum ya cinta. Dan please jangan ge-er aku menyebut kamu cinta. Walaupun kamu dan aku sudah tidak menjalin cerita hati. Toh, dulu kamu pernah menulis dengan tinta perak mengisi cerita di kekosongan kertas hatiku. Tidak salah aku menyebut kamu cinta.
Aku merindukanmu kenanganku. Semoga kau baik saja. Terima kasih sudah datang di mimpiku. Ciaooo My Past Love.
Tertuju untukmu, sekelebat kenangan yang teringat kembali
Harus aku akui. Mimpiku di siang ini mengirimkanku ke masa lalu. Bukannya aku tak mau menaruh jejak di cerita lama itu. Tapi aku hanya ingin menutup kisah kelu yang dulu bungkamkanku. Aku bukan orang traumatis. Aku hanya orang yang lebih defensif dalam mengulang cerita yang sakitiku. Bila dipikirkanpun siapa sih yang mau mengulang cerita yang tak menyenangkan? Tak ada kan?!
Apa kabarmu kenanganku? Ada apa kau tiba-tiba datang dalam bunga tidurku? Kau pasti kangen aku kan? Haha, aku bercanda. Aku yakin koq pasti sudah ada Romeo yang kini sudah ada di sisi kamu. Seorang yang rela mati untuk sekedarnya inginkanmu di sisinya. Kalau kamu tanyakan kabar aku? Aku ga lebih dari seorang Robin Hood koq. Bedanya. Robin Hood berusaha mencuri harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin, kalau aku berusaha mencari hati yang kaya untuk diberikan kepada miskinnya hati aku. Sangat ironis.
Entah kenapa kau datang berkali-kali di siang tadi. Di saat aku menutup mata pula menikmati masa rehatku. Apakah kau benar membutuhkanku? Ada apa hati lamaku? Kau butuhkanku kah? Apa yang kamu mau? Kamu lagi sakit? Kamu lagi sedih? Aku benar-benar tak bisa menerima pesanmu utuh dalam mimpi tadi. Hanya sekelebat saja kau datang, tersenyum, dan pergi lagi. Aku tak mengerti maksudnya. Walaupun kau datang dan tersenyum berkali-kali. Bila kau tak mengeluarkan untaian kalimat. Aku tak mengerti.
Maafkan aku. Aku bukan cenayang yang bisa mengartikan kalimat tanpa kata darimu.
Sudahlah kasih masa laluku. Dalam surat ini aku hanya bisa berdoa untukmu. Semoga saja kau tak apa disana. Tetap tersenyum ya cinta. Dan please jangan ge-er aku menyebut kamu cinta. Walaupun kamu dan aku sudah tidak menjalin cerita hati. Toh, dulu kamu pernah menulis dengan tinta perak mengisi cerita di kekosongan kertas hatiku. Tidak salah aku menyebut kamu cinta.
Aku merindukanmu kenanganku. Semoga kau baik saja. Terima kasih sudah datang di mimpiku. Ciaooo My Past Love.
Sunday, February 5, 2012
Yang Terasa Tapi Terlewati
Surat ini untuk yang selalu terasa tapi seakan terlewati. Dirimu pasti akan tersenyum ketika kau membaca ini.
Kalau kau ingat. Sudah berapa lama kau menemaniku? Bila aku memaksakan pikirankupun, jawaban di situ hanya "Selama hidupku". Aku tidak berkata hiperbola saat ini. Tapi aku berkata seadanya. Ini hanya lantunan jiwa. Rangkaian kata dari tarian jemari. Meramu sebuah ucap terima kasih dalam selembar surat.
Surat ini bukan tertuju pada orang tuaku. Bukan juga untuk sahabat yang selalu temani sisi hidupku. Surat ini untuk kamu. Sesuatu yang ada sebelum, sesaat, dan sesudah aku.
Hei kawan. Apakah kau tak lelah temani setiap insan yang ada di bumi ini? Aku tahu tugasmu dari Sang Khalik adalah mendampingi seorang demi seorang ciptaanNya yang paling sempurna. Tugasmu sungguhlah berat. Tapi layaknya jenderal di suatu kesatuan institusi militer. Seberat apapun itu, asal ini demi umat manusia, kau rela bekerja keras warnai hidup mereka. Kau memang tak terlihat, sahabat. Tapi dari ketidaknampakkanmu kau menunjukan kehadiranmu.
Kawan. Dirimu berarti. Ketidakeksisanmu yang membuat engkau selalu dibutuhkan. Tapi terkadang para manusia melupakan akan engkau, tak terkecuali aku. Maafkanlah terkadang keteledoran kami. Itu bukan kesengajaan, tapi memang kebiasaan manusia yang terkadang melupakan ucap terima kasih. Kata yang seakan tenggelam di saat kebahagiaan peluk raga manusia.
Hei hidup. Ini untuk dirimu. Asal kau tahu. Surat ini tertulispun sangatlah sulit. Menuliskan surat tertanda "Hidup" adalah tulisan yang sulit. Aku harus akui itu, mau bagaimanapun. Dibandingkan keamatiran aku merangkai kata dengan ketidakpamrihan dirimu merangkai kisah dalam jalanku. Jelas, aku kalah jauh.
Hei hidup, terima kasih ya. Walaupun terkadang aku seakan tak merasakan dirimu. Aku terkadang hanya berlari cepat dan melewatkan dirimu. Tidak lagi diam sejenak, menarik nafas, dan melemparkan senyum syukur atas adanya dirimu. Hidup, terima kasih untuk adanya dirimu yang menjadi lintasan kisah hidupku di awal, sekarang, hingga akhir aku menarik nafas nanti.
Terima kasih, Hidup :)
Kalau kau ingat. Sudah berapa lama kau menemaniku? Bila aku memaksakan pikirankupun, jawaban di situ hanya "Selama hidupku". Aku tidak berkata hiperbola saat ini. Tapi aku berkata seadanya. Ini hanya lantunan jiwa. Rangkaian kata dari tarian jemari. Meramu sebuah ucap terima kasih dalam selembar surat.
Surat ini bukan tertuju pada orang tuaku. Bukan juga untuk sahabat yang selalu temani sisi hidupku. Surat ini untuk kamu. Sesuatu yang ada sebelum, sesaat, dan sesudah aku.
Hei kawan. Apakah kau tak lelah temani setiap insan yang ada di bumi ini? Aku tahu tugasmu dari Sang Khalik adalah mendampingi seorang demi seorang ciptaanNya yang paling sempurna. Tugasmu sungguhlah berat. Tapi layaknya jenderal di suatu kesatuan institusi militer. Seberat apapun itu, asal ini demi umat manusia, kau rela bekerja keras warnai hidup mereka. Kau memang tak terlihat, sahabat. Tapi dari ketidaknampakkanmu kau menunjukan kehadiranmu.
Kawan. Dirimu berarti. Ketidakeksisanmu yang membuat engkau selalu dibutuhkan. Tapi terkadang para manusia melupakan akan engkau, tak terkecuali aku. Maafkanlah terkadang keteledoran kami. Itu bukan kesengajaan, tapi memang kebiasaan manusia yang terkadang melupakan ucap terima kasih. Kata yang seakan tenggelam di saat kebahagiaan peluk raga manusia.
Hei hidup. Ini untuk dirimu. Asal kau tahu. Surat ini tertulispun sangatlah sulit. Menuliskan surat tertanda "Hidup" adalah tulisan yang sulit. Aku harus akui itu, mau bagaimanapun. Dibandingkan keamatiran aku merangkai kata dengan ketidakpamrihan dirimu merangkai kisah dalam jalanku. Jelas, aku kalah jauh.
Hei hidup, terima kasih ya. Walaupun terkadang aku seakan tak merasakan dirimu. Aku terkadang hanya berlari cepat dan melewatkan dirimu. Tidak lagi diam sejenak, menarik nafas, dan melemparkan senyum syukur atas adanya dirimu. Hidup, terima kasih untuk adanya dirimu yang menjadi lintasan kisah hidupku di awal, sekarang, hingga akhir aku menarik nafas nanti.
Terima kasih, Hidup :)
Saturday, February 4, 2012
Untuk Hujan
Hei langit.
kenapa kau menangis terus?
Apakah kau menangisi bumi ini? atau Mewakili planet biru ini menumpahkan perasaannya?
Kenapa kau menangis terus?
Seharian kemarin kau basahi aku. Linangan air matamu dinginkan jalan - jalan aspal yang retak. Kau hambatku untuk mencapai tujuanku. Padahal kau tahu kan, aku seorang pengendara roda dua yang akan terhambat bila dirimu turun.
Hei hujan, ayolah berhenti turun.
Kata orang kalau dirimu ada, itu berarti turun berkat dari langit. Tapi apakah bila dirimu datang silih berganti dan tak henti. Bukankah itu berubah menjadi musibah? Sawah pun tak akan menghasilkan bila kau membanjiri lahan itu. Hei air dari langit. Pahamilah kami.
Sekarang. Mungkin surat ini tak terbacakan. Tapi tenang kawan. Aku akan datang keluar rumah, dan berteriak dari dalam hati. Aku ingin pengertianmu. Aku ingin ketenanganmu. Cukuplah kau menangis. Sudahlah kau melepaskan hujan ke bumi ini. Kau bisa berganti dengan sang musim panas. Biar bunga-bunga bisa bermekaran, dan kembali hiasi bumi.
Dear Hujan, berhentilah sekarang dan kembalilah lain kali.
kenapa kau menangis terus?
Apakah kau menangisi bumi ini? atau Mewakili planet biru ini menumpahkan perasaannya?
Kenapa kau menangis terus?
Seharian kemarin kau basahi aku. Linangan air matamu dinginkan jalan - jalan aspal yang retak. Kau hambatku untuk mencapai tujuanku. Padahal kau tahu kan, aku seorang pengendara roda dua yang akan terhambat bila dirimu turun.
Hei hujan, ayolah berhenti turun.
Kata orang kalau dirimu ada, itu berarti turun berkat dari langit. Tapi apakah bila dirimu datang silih berganti dan tak henti. Bukankah itu berubah menjadi musibah? Sawah pun tak akan menghasilkan bila kau membanjiri lahan itu. Hei air dari langit. Pahamilah kami.
Sekarang. Mungkin surat ini tak terbacakan. Tapi tenang kawan. Aku akan datang keluar rumah, dan berteriak dari dalam hati. Aku ingin pengertianmu. Aku ingin ketenanganmu. Cukuplah kau menangis. Sudahlah kau melepaskan hujan ke bumi ini. Kau bisa berganti dengan sang musim panas. Biar bunga-bunga bisa bermekaran, dan kembali hiasi bumi.
Dear Hujan, berhentilah sekarang dan kembalilah lain kali.
Subscribe to:
Comments (Atom)